psikologi wajah di iklan

mengapa arah mata model menentukan fokus kita pada tombol beli

psikologi wajah di iklan
I

Pernahkah kita merasa memegang kendali penuh atas apa yang kita lihat? Saat menggulir layar ponsel dan melihat iklan sepatu diskon, kita mungkin berpikir kitalah yang secara sadar memutuskan untuk melihat tombol "Beli Sekarang". Namun, mari kita telusuri ini lebih dalam. Sebenarnya, ada dalang tak kasat mata yang sedang menuntun bola mata kita. Dalang ini bukan teknologi kecerdasan buatan yang canggih, melainkan sesuatu yang sangat purba dan menempel di kepala kita: sebuah wajah. Mari kita bedah sebuah trik psikologis yang begitu halus di sekitar kita, sampai-sampai kita tidak sadar sedang diarahkan.

II

Sejak zaman nenek moyang kita berburu di padang sabana, mengenali wajah adalah soal hidup dan mati. Otak kita berevolusi menjadi mesin pencari wajah yang sangat sensitif. Kita butuh mengenali wajah dengan cepat untuk tahu apakah sosok di balik semak-semak itu teman yang membawa makanan, atau musuh yang siap menyerang. Bukti ilmiahnya sangat jelas. Bayi yang baru lahir pun akan menghabiskan waktu lebih lama menatap gambar yang menyerupai struktur wajah dibanding gambar abstrak yang acak. Insting sosial ini tertanam begitu dalam di sirkuit saraf kita. Dalam dunia desain dan periklanan modern, insting purba inilah yang dipinjam dengan sangat cerdik. Saat kita melihat sebuah poster iklan, hal pertama yang akan dipindai oleh otak kita bukanlah harga, bukan logo merek, apalagi teks deskripsi yang panjang. Otak kita akan otomatis mencari wajah si model iklan terlebih dahulu.

III

Namun, di sinilah para pembuat iklan pada awalnya menemui jalan buntu. Mari kita lihat sebuah studi pelacakan mata atau eye-tracking klasik tentang iklan popok bayi. Iklan tersebut menampilkan foto bayi yang luar biasa menggemaskan di sebelah kiri, dan teks penawaran popok di sebelah kanan. Hasil pelacakan matanya ternyata bikin pusing kepala para peneliti pemasaran. Titik panas atau heatmap pada layar menunjukkan bahwa 90 persen perhatian penonton hanya terkunci pada wajah si bayi. Teks promo dan tombol belinya seolah tak kasat mata. Wajah bayi yang lucu itu justru menjadi senjata makan tuan. Wajah itu mencuri semua perhatian penonton dari produk yang seharusnya dijual. Lalu, bagaimana caranya mempertahankan wajah si model yang memicu empati, tapi sekaligus membuat kita mau membaca penawaran produknya? Ada satu bagian tubuh dari si model yang ternyata menjadi kunci utama misteri ini.

IV

Solusinya bukan mengganti foto bayi tersebut, melainkan sekadar mengubah arah pandangannya. Di versi iklan yang kedua, foto si bayi diubah posisinya. Bayi itu tidak lagi menatap lurus ke arah kita, melainkan menoleh dan menatap langsung ke arah teks promo di sebelahnya. Hasilnya sungguh mengejutkan. Peta pelacakan mata berubah drastis. Setelah melihat wajah si bayi sebentar, bola mata para penonton otomatis mengikuti arah pandangan si bayi, meluncur mulus melintasi layar, lalu mendarat tepat ke arah teks dan tombol beli. Fenomena psikologis ini dinamakan gaze cueing atau joint attention. Secara naluriah, otak kita selalu ingin tahu apa yang sedang diperhatikan oleh orang lain. Coba bayangkan jika seseorang di jalan tiba-tiba berhenti dan mendongak tajam ke langit, kita pasti akan ikut melihat ke atas, bukan? Di dalam otak kita, sel-sel saraf khusus yang disebut mirror neurons sedang bekerja. Otak kita seolah berbisik, "Hei, dia melihat sesuatu di sana, pasti itu penting, kita harus ikut melihatnya!" Inilah rahasia terbesarnya. Arah mata si model iklan adalah panah penunjuk jalan tak kasat mata yang mengendalikan fokus visual kita.

V

Mengetahui fakta sains ini mungkin membuat kita merasa sedikit dimanipulasi oleh industri periklanan. Tapi sungguh, mari kita bersikap lembut pada diri kita sendiri. Kita tidak sedang ditipu karena kita kurang teliti. Kita merespons dengan cara seperti itu justru karena kita adalah makhluk sosial yang sangat cerdas secara evolusioner. Empati dan kemampuan kita membaca arah pandangan sesama manusia adalah kunci mengapa spesies kita bisa bertahan hidup, bekerja sama, dan membangun peradaban. Dunia komersial hanya menumpang pada kehebatan biologi kita. Jadi, tujuan kita belajar ini bukanlah untuk menjadi paranoid setiap kali melihat baliho di jalan atau iklan di layar ponsel. Ini tentang melatih kesadaran diri dan berpikir kritis. Lain kali, saat teman-teman sedang menggulir layar dan tiba-tiba merasa sangat ingin mengklik sebuah tombol penawaran, berhentilah sejenak. Tarik napas. Perhatikan wajah model di iklan tersebut. Ke mana matanya sedang melihat? Dari situ, kita bisa tersenyum simpul, karena kita sadar bahwa kita baru saja berkenalan ulang dengan sisi paling manusiawi dari diri kita sendiri.